Listrik Prabayar kini menjadi andalan PLN untuk merebut hati konsumen. Seberapa jauh daya tariknya?
Menyempatkan sejenak di Loket Pembayaran Listrik di Kantor Pos bilangan Kebayoran Lama, perbincangan ibu-ibu yang mengantri kini tak melulu soal tagihan listrik dan pemadaman bergilir.
Untuk yang terakhir disebut, hal itu pelan-pelan menjadi cerita lama. Bolehlah salut dialamatkan untuk bos Dahlan Iskan.
Nah, untuk obrolan tentang tagihan listrik bulanan pun kini tak lagi berkutat soal rupiah. Ujung perbincangan lantas menyentuh listrk prabayar.
Sedikit menguping, tiga ibu rumah tangga nampaknya sudah tidak asing dengan istilah keren itu. Tak ada pertanyaan, “Apaan tuh?” Dari sini tampaknya sosialisasi yang digulirkan PLN layak dibilang berjalan dengan baik.
Nah, rumpian emak-emak lantas makin ramai ketika mulai soal plus-minus listrik prabayar. Tentu saja, sesi keluhan dan testimoni menjadi panjang. “Listrik tetangga saya, waktu pindahannya sih dulu mudah, tunggu tiga hari teknisinya datang. Cuman, isi ulangnya yang mesti ke bank,” kata seorang di antara mereka.
Pindahan yang ia maksud adalah migrasi dari konvensional ke prabayar. Ia mengingat promosi listrik prabayar sebelumnya yang mengklaim sepraktis mengisi ulang pulsa telepon seluler. Konon, voucher mudah didapat.
“Punya anak saya, listrik mati gara-gara susah dapat vouchernya. Waduh, kok seperti pemadaman bergilir saja ya. Cuman, sekarang jatuhnya (kesalahan) di kita,” yang lain menimpali. Pendapat sedikit berbeda meluncur dari ibu ketiga, katanya, pemilik rumah kontrakan dan kos yang menjamur seperti di kawasan Rawa Belong hingga Batusari, Jakarta Barat, paling menikmati layanan mutakhir PLN ini.
Listrik prabayar sejatinya bentuk pelayanan PLN dalam menjual energi listrik dengan cara pelanggan membayar di muka. Mudahnya, sebelum menggunakan listrik dari PLN, pelanggan terlebih dahulu membeli sejumlah nominal energi listrik, sesuai yang dibutuhkan.
Dengan cara ini, kendali penggunaan listrik sepenuhnya ada pada diri pelanggan. Kekhawatiran tagihan listrik membengkak tak perlu lagi lagi terjadi. Baik yang disebabkan oleh penggunaan listrik yang tak terkontrol maupun terjadinya kesalahan baca meter. Dengan membeli listrik di awal, hal-hal yang tidak diinginkan tersebut tak perlu lagi terjadi.
Bila dibandingkan dengan penggunaan layanan pasca bayar selama ini, pelanggan relatif tak leluasa untuk mengetahui berapa besar energi listrik yang telah dikonsumsi. Pelanggan baru bisa mengetahuinya setelah waktu pembayaran atau bahkan saat akan membayar di loket PLN. Maka, tak heran jika kadang pelanggan dibuat kaget oleh tagihan yang melambung tinggi. Yang disebabkan oleh penggunaan listrik yang tak terkendali.
Menurut General Manager PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Purnomo Willy BS, pelanggan prabayar bukan saja bisa mengetahui sudah berapa banyak energi listrik yang dikonsumsi, namun juga dapat melihat berapa energi listrik yang masih tersisa untuk dapat digunakan. “Pelanggan akan menikmati kebebasan dalam mengatur pola pemakaiannya. Bahkan langsung bisa mengevaluasi sendiri,” kata Purnomo yang berharap pula pelanggan dapat belajar berhemat.
Golongan pelanggan
Untuk merebut hati pelanggan, PLN sempat menggratiskan biaya migrasi (pindah) dari listrik paskabayar ke listrik prabayar pada Maret silam. Strategi ini sekaligus untuk memancing animo calon pelanggan, bagi pemasangan listrik baru, menjadikan layanan prabayar sebagai pilihan pertama. Purnomo menjamin pula, tak ada pembatasan pelayanan alias golongan pelanggan dari 450 volt ampere (VA) sampai 5500 VA dapat tersambung.
Mengingat uniknya sifat layanan listrik prabayar ini, maka diperlukan alat khusus yang berbeda dengan layanan listrik pasca bayar. Alat khusus ini dinamakan kWh Meter (meteran listrik) Pra Bayar, atau lebih dikenal sebagai Meter prabayar.
Setiap pelanggan prabayar akan dilengkapi dengan meter prabayar ini beserta 1 Kartu Prabayar. Meter tersebut yang akan mencatat penggunaan listrik anda. Sedang, kartu prabayar selain sebagai nomor identitas pelanggan prabayar juga berfungsi sebagai alat transaksi pembelian energi listrik. Kartu prabayar tersebut dipakai oleh pelanggan selama masih berlangganan listrik PLN.
Jadi, saat membeli energi listrik (isi ulang), pelanggan harus menunjukkan dan memberikan kartu prabayar kepada petugas PLN untuk dilakukan pengisian energi listrik. Tanpa kartu prabayar, pengisian ulang tidak dapat dilakukan.
Tarif Multiguna
Tarip listrik Prabayar sesuai dengan Tarip Dasar Listrik (TDL Tahun 2004), yakni Tarip Multiguna untuk pelanggan Reklame, Billboard, pedagang Kaki-Lima dsb sebesar Rp 1.380/ kWh. Bila dibandingkan dengan tarip reguler, maka listrik prabayar boleh dikatakan lebih murah.
Karena pelanggan tidak perlu lagi membayar Uang Jaminan Langganan (UJL), sementara harga per kWh-nya tetap (flat). Dengan listrik prabayar, keuntungan ganda diperoleh pelanggan, disamping dapat mengkontrol pemakaian listrik sesuai kemampuan biaya, juga tidak dikenakan UJL.
Untuk pembelian isi ulang listrik prabayar, ada beberapa menu pilihan yaitu Rp 20.000,- Rp 50.000,- Rp 100.000,- Rp 250.000,- Rp 500.000,- dan Rp 1.000.000,-. Isi ulang tersebut dapat di peroleh di loket atau kantor pelayanan PLN, Bank Bukopin, Mandiri, OCBC NISP, BPRKS, Artha graha, BRI, BNI, dan Kantor Pos.
Dengan prabayar diharapkan pelanggan dapat menikmati berbagai kemudahan yaitu dapat mengendalikan pemakaian listrik, bebas pencatatan meter, membeli setrum sesuai kemampuan, tidak ada biaya keterlambatan, bebas biaya abonemen, privasi lebih terjaga dan jaringan isi ulang mudah di dapat.
Listrik prabayar bermula pada tahun 2007 lalu, prabayar pertama kali dinikmati oleh masyarakat Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Untung Jawa. Dilanjutkan Tahun 2008 PLN terus mengkaji implementasi prabayar untuk pelanggan di daratan. Di tahun 2009, prabayar resmi diberlakukan bagi pelanggan PLN di Jakarta dan Tangerang.*Nur Iman