Wawancara: Tri Mumpuni Wiyatno

PLN Diuntungkan dengan Pembangkit Mikro Hidro!

Penyandang predikat Climate Hero yang disampirkan WWF ini melihat akses masyarakat desa atas listrik tidak melulu soal pasokan setrum. Ia juga antusias dengan gelagat positif PLN melakukan ijon energi.

Soal akses listrik, ada masalah yang lebih ‘hulu’ untuk dibenahi: pemerintah harus konsisten membuka akses pada masyarkat terkait finansial dan inforamsi. Kedua, sistem investasi belum beres dan kurang adil.

Menurut Puni, sapaan akrab untuknya, dengan keberadaan sumberdaya di wilayahnya seharusnya rakyat mendapat prioritas keuntungan. Selama ini hanya dinikmati oleh penguasa dan pengusaha, dua kekuatan ini bergabung jadi super powerfull. Tidak ada yang tersisa bagi rakyat, tegasnya.

Alih-alih mengurutkan beragam kendala ketika ditanya soal kondisi kelistrikan di Indonesia, terutama untuk daerah yang terpencil. Tri Mumpuni memilih menyodorkan terlebih dulu solusi, pemerintah memberi pilihan agar masyarakat setempat diberi kesempatan untuk mengusulkan sendiri pembangkit yang diinginkan.

Keleluasaan itu tetap ada syaratnya. “Jangan dilepas! Untuk mereka yang belum memiliki kemampuan sebaiknya tetap ada bantuan assessment,” pesannya pada reporter Energi, Nur Iman Gunarba dan Budi Prasetyo usai acara panel dengan Menteri Perdagangan AS, Gary Locke, di Jakarta, akhir Mei kemarin. Ajang itu mengagendakan kemitraan investasi energi bersih.

Sayangnya, persoalan birokrasi dan aturan menghambat laju pemberdayaan masyarakat. Ia menunjuk bahwa LSM yang yang sudah memiliki kemampuan teknologi tidak dapat mengakses dana pemeritnah untuk membangun pembangkit mikro hidro. Aralnya pada persyaratan peserta tender yang mengharuskan legalitas lembaga berbentuk PT.

‘Harga’ yang harus dibayar akhirnya jauh lebih tinggi. Daya tahan yang rendah dan ketidaksesuaian dengan kondisi lingkungan membuat fasilitas yang dibangun hanya dibangun berdatahan 3 bulan, paling jauh dua tahun.

Analisis Puni mengarah pada berapapun anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk listrik pedesaan, masyarakat yang teraliri tidak meningkat secara signifikan. Pasalnya, dana anggaran bukan hanya untuk membangun pembangkit baru tapi juga terserap untuk perbaikan dan perawatan pembangkit yang reliabilitinya rendah.

Lewat lembaga Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) yang ia dirikan bersama suaminya, Ir Iskandar Budisaroso Kuntoadji, Puni pun senantiasa melakukan pendekatan sekaligus pemberdayaan. Analisis teknis pun berbarengan dengan studi lingkungan dan sosial. Kini 63 unit pembangkit mikro hidro terbangun dan dinikmati masyarakat desa Jawa dan luar Jawa, dari Aceh hingga Kalimantan bahkan 1 unit di Filipina.

Aktivitas Ibu sudah 10 tahun, apa yang berubah dibanding ketika memulai?

Dulu sangat susah sekali menawarkan pembangkit mikro hidro pada pemerintah, bahkan PLN sangat resisten dengan permintaan kita agar listrik dari pembangkit rakyat dapat diterima. Pemikiran kita sederhana, jika diterima maka rakyat desa akan mendapat pendapatan dari penjualan listrik ke jaringan PLN.

Alhamdulillah, pada 26 Juni 2002 keluar keputusan menteri ESDM yang membolehkan pembangkit skala kecil yang tersebar untuk menyalurkan  listrik ke PLN. Sayangnya, ini mendorong invertor kaya masuk ke bisnis pembangkit dan bukannya rakyat kebanyakan. Artinya kemudahan dari pemerintah jika tidak dipagari maka hanya dinikmati oleh orang kaya di luar desa.

Maka sekarang perjuangan saya bergeser pada bagaimana resources milik rakyat dapat bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi rakyat itu. Jika ekonomi kuat maka lingkungan juga akan lebih baik. Jadi rakyat juga harus diberi kesempatan bisnis. Nah ekonomi yang berbasis kerakyatan sangat bisa dilakukan di seluruh desa Indonesia karena semua resources ada di desa.

Bagaimana dengan imbas listrik dipandang sebagai infrastrukur sehingga kita cenderung konsumtif?

Kadang masyakrat mendapat akses listrik tapi tidak mendapat penjelasan bahwa listrik untuk meningkatkan kesejahteraan misalnya untuk nilai tambah artinya untuk berprodusi. Terlalu banyak porsi penyampaian jargon bahwa listrik sebagai salah satu tulang punggung ekonomi, sehingga rakyat tahunya untuk kegiatan konsumtif.

Idealnya, listrik tidak dilihat sebagai penerang di malam hari tapi juga menopang kegiatan ekonomi produktif di pedesaan. Pemerintah perlu rajin mendorong kegiatan ekonomi di desa karena itu sumber pendapatan masyarakat yang berkelanjutan.

Konkretnya seperti apa?

Di Aceh, agar masyarakat dapat membayar listrik dengan cara pendapatan ditingkatkan. Listrik dipakai untuk mengeringkan cengkeh, kopi, dan penyulingan nilam untuk atsiri. Pendapatan keluarga bertambah, membayar listrik tidak masalah. Inilah follow up activity. Tindak lanjut dari aktivitas yang meningkatkan nilai tambah produk desa itu.

Bagaimana perkembangan komunikasi dengan PLN?

Kini jauh lebih konkret dan membuat saya senang, PLN di bawah Dahlan Iskan mau ijon. Istilahnya mungkin agak asing dan aneh tapi malah riil. Masyarakat yang memiliki sumber daya air membangun pembangkit mikro hidro. Dananya dari pinjaman lunak dari PLN, jangka waktunya 17 tahun. Ini pilihan menarik dibandingkan jika PLN membakar solar dengan bujet Rp 60 juta per hari.

Seperti halnya praktik ijon, PLN seperti mengeluarkan uang terlebih dulu tapi keuntungannya jangka panjang. Toh, itulah fungsi negara untuk mengurusi rakyat. Income masyarakt bisa sangat luar biasa. Contohnya masyarakat di salah satu desa di Mamasa, Sulawei Barat memiliki pendapatan desa Rp 100 juta dengan pembangkit skala kecil 325 kW.

Lantas masyarakat membayar listriknya dari energy sale, penjualan listrik ke PLN.   Nah kalau sudah lunas maka seumur hidup masyarakat akan dapat pendapatan sekaligus menjaga hutan sekitar. Pak Dahlan Iskan mangatakan, ‘Ibu, ini harus kita realisasi.’ Dan, saya akan menagihnya.

Manfaat listrik mikro hidro masuk bagi PLN?

Tahun 1999, ketika saya ngotot agar PLN membeli listrik mikro hidro. Pertimbangannya, batas maksimal penarikan jaringan listrik dari gardu terakhir kan 75 kilometer. Tapi karena kebutuhan listrik yang tinggi, maka sampai terulur hingga 150 sampai 200 kilometer. Akibatnya voltase di ujung jaringan PLN menjadi drop. Yang terlihat kasat mata, lampu hanya berkedip-kedip. Kalau di ujung transmisi itu ‘disuntik’ dengan listrik mikro hidro, voltasenya akan naik dan bagus. PLN pun diuntungkan

Harga listrik mikrohidro juga lebih murah, Rp 425 dan Rp 432 per kWh. Listrik dari swasta dijual 6-7 sen dollar AS sebelum negosiasi. Hitungan detilnya semakin jelas. Jika pemerintah membangun 500 megawatt listrik dari tenaga mikrohidro, lalu rata-rata satu pembangkit menghasilkan 100 kWh, berarti ada 5.000 pembangkit. Hasil penjualan ke PLN, Rp 1,29 triliun per tahun ke kas desa

PLN akan menghemat belanja bahan bakar satu miliar liter setahun atau kira-kira Rp 4,3 triliun. Dan  biaya yang dibayarkan PLN kepada orang desa hanya Rp 1,29 triliun.

Berapa rasio kapasitas listrik dengan dukungan lingkungan, misalnya jumlah pohon ?

Gampang saja. Jika ingin membangkitkan 100 kW maka tinggal hitung 100 kali 24 (dari perhitungan listrik menyala 24 jam) kali 365 hari. Hasilnya,itulah jumlah pohon yang dibutuhkan menopang pemangkit kita. Dengan banyaknya tegakan pohon untuk mendukung sumber daya air, maka masyarakat dengan sendirinya menjaga hutan dan melakukan penghijauan sendiri. Idealnya, vegetasi dipertahankan dan tidak boleh monokultur karena sangat merusak.

Lebih aman lagi kita membuat dan menjaga catchment area atau kawasan penghimpun air seluas 30 kilometer persegi di area hulu. Sangat jelas ini mencegah pembalakan liar. Listrik mikro hidro menjadi salah satu cara terefektif meningkatkan pendapatan dengan usaha produktif, penjualan listrik dan melepaskan mereka dari jerat ilegal logging.

Berapa dana yang dibutuhkan untuk produksi per 1 kW?

Kita butuh US $ 1500, jika medannya bagus. Bisa juga melonjak berlipat-lipat hingga US$ 9000 per 1 kW. Ini kami lalukan di Tendan II, Sulawesi Utara pada 1999. Kapasitas pembangkit kapastas 35 kW. Kami melakukannya dengan membawa material dengan kuda. Saat itu tidak ada infrastruktur sama sekali namun sekarang aksesnya sudah bagus.

Dengan kebutuhan dana yang besar, bagaimana pendanaannya?

Kita perjuangkan unutk mendapat pendanaan dari bank secara soft loan atau pinjaman lunak berjangka panjang. Bank nasional harus kita ajari agar berani. Karena, bank dari luar negeri saja mau mendanai misalnya Kontrol Bank Austria yang mendukung 3 juta euro atau sekitar 42 milyar. *

BIODATA

Nama lengkap                         : Tri Mumpuni Wiyatno

Tempat dan tanggal lahir    : Semarang, 6 Agustus 1964

Keluarga:

Suami: Ir Iskandar Budisaroso Kuntoadji.

Anak: Ayu Larasati (21), mahasiswi industrial design di Toronto University, Kanada, dan

Asri Saraswati (19), mahasiswi bioprocess chemical engineering di University of Technology Malaysia.

Pendidikan:

Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor;

Energy and Sustainable Development International Session, Universidad da Costa Rica, 1992;

Trade and Sustainable Development Course, Chiang Mai University, Thailand, 1993; Leadership for Environment and Development Course, 1993-1995, LEAD based in New York funded by Rockefeller Foundation; Lead Fellows (Cohort 2).

Penghargaan: Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature, ASEAN Energy Award 2007

Pekerjaan: Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA).

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under listrik, wawancara/dialog

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s